Sejarah dan Asal Usul Tambahmulyo
Sejarah dan Asal Usul Desa Tambahmulyo: Dari
Zaman Dahulu Hingga Kini
Desa Tambahmulyo, yang terletak di Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, menyimpan kisah sejarah yang panjang dan penuh makna. Jaraknya sekitar 7 kilometer dari pusat kecamatan dan 15 kilometer dari pusat Kabupaten Pati. Desa ini terdiri dari tiga pedukuhan, yaitu Banglean, Tambakkapas, dan Banglean tempel. Selain dikenal sebagai desa yang maju secara ekonomi, Tambahmulyo juga kaya akan sejarah, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang terus dijaga hingga saat ini.
Jejak Kepala Desa dari Masa ke Masa
Kepala desa pertama Tambahmulyo tercatat bernama Pak Sabrun. Ia memimpin pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1940-an. Setelah beliau, tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Pak Hamzah atau yang akrab disapa Pak Habja. Kemudian, jabatan kepala desa dipegang oleh Pak Asnawi.
Setelah masa Pak Asnawi berakhir, desa dipimpin oleh Pak Parman, lalu digantikan oleh Dr. Andrus Gunandar. Kepemimpinan berikutnya jatuh kepada Mbak Kuntur, sebelum akhirnya kembali dijabat oleh Pak Nandar selama dua periode. Selanjutnya, adik kandung Pak Nandar yaitu Pak Haris turut melanjutkan estafet pemerintahan. Kini, kepala desa Tambahmulyo adalah Pak Eka Kurnia Sejati, sosok kepala desa yang masih muda progresif yang dikenal energik, inovatif, dan dekat dengan masyarakat.
Asal usul nama Banglean
Pada zaman dahulu, pada masa penjajahan Belanda, terdapat seorang utusan Kerajaan Majapahit bernama Bapak Samsuri bersama istrinya, Mbah Sari. Keduanya mendapat perintah dari Raja Majapahit untuk menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Sepulang dari ibadah haji, Bapak Samsuri dan istrinya berhenti di sebuah tempat yang dipenuhi tanaman bangle. Di atas sebuah tanah yang dikenal dengan sebutan "Yan", mereka membuka hutan (membabat hutan). Tempat itu kemudian dinamakan Banglean, yang berasal dari banyaknya tanaman bangle dan kata "Yan" yang merupakan sebutan di daerah tersebut dan nama itu diberikan langsung oleh Mbah Samsuri.
Seiring waktu, desa ini juga dikenal dengan sebutan Tambakkapas, berkaitan dengan peristiwa banjir besar yang terjadi saat itu. Seorang tokoh bernama Mbah Hasan ditugaskan untuk menangani banjir di kawasan Kali Bedah dengan membuat penghalang dari kapas. Karena keberhasilannya dalam menangani bencana tersebut, wilayah ini kemudian juga disebut Tambakkapas
Budaya, Spiritualitas, dan Kemajuan Ekonomi
Selain kekayaan sejarah, Tambahmulyo juga dikenal memiliki kehidupan keagamaan yang kental. Kegiatan seperti tahlilan dan yasinan dilaksanakan rutin setiap malam Jumat. Desa Tambahmulyo juga mengalami perkembangan pesat di bidang ekonomi. Hal ini terlihat dari rata-rata pendapatan masyarakatnya yang berada di atas rata-rata desa lain di Kecamatan Jakenan. Mayoritas penduduk menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan peternakan sapi.
Dengan kekayaan sejarah, tokoh-tokoh berpengaruh, nilai spiritual yang terus hidup, serta pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan, Desa Tambahmulyo menjadi contoh desa yang mampu menjaga warisan leluhur sambil terus berkembang menuju masa depan.
Komentar
Posting Komentar